Proses menuju kesadaran kritis yang berawal dari kesadaran magis
seseorang mempunyai kesadaran masing-masing menurut lingkungannya
sesuai dengan pola interaksi dan keyakinan dalam menganut pradigma pendidikan. Kesadaran
seseorang tentunya di barengi oleh pradigma-pradigma yang mendukung kesadaran
tersebut. ada 3 kesadaran dan ada pula 3 pradigma yang saling berdampingan
serta saling berikatan.
Kesadaran magis
kesadaran tersebut berimplikasi pada suatu kesadaran yang berasal dari pikiran
akan peristiwa yang dialami oleh manusia adalah campur tangan dari luar. Atau
bisa dikatakan bahwa kita sebaga manusia hanya bisa menjalani saja akan sebuah
ketetapan yang sudah di tetapkan oleh tuhan. Kesadaran tersebut berdampingan
dengan pradigma konservatif. Karena pradigma konservatif adalah suatu pradigma
yang berpandangan bahwa ketidaksejajaran adalah suatu keharusan yang alami,
yang mustahil untuk di hindari karena hal tersebut telah menjadi sebuah sejara
atu sudah sebuah ketetapan dan menjadi bagian dari dalam diri kita. Sehingga
tidak perlu bersusah payah untuk mengubahnya.
Kesadaran naïf
kesadaran tersebut adalah suatu peristiwa yang di alami adalah hasil dari
proses yang pernah kita tempuh sebelumnya. Jadi sebelum mendapatkan apa yang
kita targetkan maupun apa yang kita tetapkan sebelumnya kita harus membuat
sebuah rencana-rencana untuk bisa mencapai hasil tersebut. serta percaya jika
seseorang bisa melakukan hal tersebut tentunya kita juga pasti bisa dan
mempunyai kesempatan yang sama untuk bisa. kesadaran ini setara dengan pradigma
liberal. Karena pradigma liberal merupakan pola pikir yang menyatakan bahwa
kita harus bisa mengambil keuntungan dari apa yang pernah kita tanam
sebelumnya.
Kesadaran kritis
kesadaran ini adalah sebuah kesadaran yang paling utama dari pada kedua
kesadaran lannya. Karena kesadaran ini suatu peristiwa yang terjad pada
seseorang bisa jadi karena faktor dari luar sehingga perlu adanya humanisasi antar
sesame. Dan menghapus proses dehumanisasi yang bisa menjadikan seseorang
tersebut bisa mendapatkan apa yang menjadi haknya. Atau bisa juga di katakana
kita perlu menoleh untuk bisa membantu seseorang yang masih belum bisa
mendapatkan hak yang sepantasnya menjadi miliknya. Kesadaran tersebut sejajar
dengan pradigma radikal hal tersebut bisa dikatakan sama karena pradigma
radikal adalah suatu pola pikir yang memanusiakan manusia sehingga anti
diskriminasi, dan indoktrinatif (pemberian
ajaran secara mendalam (tanpa kritik) atau penggemblengan mengenai suatu paham
atau doktrin tertentu dengan melihat suatu kebenaran dari arah tertentu saja).
Sehingga pradigma ini membangun system sosial yang lebih adil.
Dari
ketiga kesadaran tersebut mulai dari kesadaran magis, kesadaran naïf hingga
kesadaran kritis, tentu sebagai manusia yang berprikemanusiaan sepatutnya
memiliki sebuah kesadaran kritis yang dibarengi oleh pradigma radikal. Karena
kesadaran dan pradigma tersebut adalah bisa menjadikan antar sesama bisa saling
mendapatkan hak yang seharusnya menjadi milik kita. Sehingga bisa memanusiakan
manusia serta Negara pasti bisa menyetarakan hak-hak rakyatnya.
Kenyataannya
pendidikan saat ini kebanyakan tidak berorientasi untuk melahirkan suatu hal
yang berkeadilan atau kesadaran kritis. Namun kebanyakan proses pendidikan yang
ada di Indonesia ini adalah berorientasi pada pradigma konservatif dan liberal.
Hal tersebut di buktikan dengan adanya banyaknya lulusan dari sebuah pendidikan
yang berfikiran bahwa harus bisa mendapatkan apa yang pernah dikeluarkan
sebelumnya. Dari pradigma tersebut melahirkan seseorang yang bermental
matrealistis dan dehumanisasi. Sehingga saat ini sering terjadi kesenjangan
sosial di Negara ini. Bahkan tokoh pemerintahan yang seharusnya menjadi wakil
rakyat malah menyalahgunakan wewenang tersebut. banyak tokoh pemerintahan yang
terlibat pada hal pengelapan uang, serta dalam sel tahanan pun masih kedapatan
tindakan curang.
Untuk itu perlu
sebuah perubahan untuk bisa merubah dari sebuah kesadaran magis menuju
kesadaran kritis. Sehingga bisa menjadikan sebuah Negara sejahtera dan
berkeadilan. Namun untuk mengubah dari kesadaran magis ke kesadaran kritis. memang
sangatlah susah. Perlu adanya proses yang begitu lama.
Menurut penulis dalam mengubah hal tersebut pemerintah tidak bisa
sepenuhnya diandalkan. Namun pemerintah nantinya bisa di andalakn dalam hal
memutuskan suatu kebijakan, yang nantinya bisa mengarah kepada kesadaran
kritis. Karena untuk merubah sebuah proses kesadaran dan pradigma yang telah
tertanam pada diri seseorang butuh sebuah proses yang sedikit demi sedikit.
Misalnya dari partisipasi sebuah komunitas-komunitas yang turut berpartisipasi
dalam mengembangkan masyarakat sehingga bisa mengubah kesadaran masyarakat.
Melewati proses pendekatan-pendekatan khusus.
Pradigma kritis adalah sebuah pemikiran yang paling benar dan
paling memanusiakan manusia diantara pradigma dan kesadaran lainya. Untuk itu perlu
di adakan sebuah cara atau strategi khusus sehingga masyarakat bisa menerapkan
dan mengubah pola pemikiran mereka menjadi pemikiran pradigma radikal.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar