Cari Blog Ini

kesadaran magis, naif, dan kritis

Proses menuju kesadaran kritis yang berawal dari kesadaran magis
            seseorang mempunyai kesadaran masing-masing menurut lingkungannya sesuai dengan pola interaksi dan keyakinan dalam menganut pradigma pendidikan. Kesadaran seseorang tentunya di barengi oleh pradigma-pradigma yang mendukung kesadaran tersebut. ada 3 kesadaran dan ada pula 3 pradigma yang saling berdampingan serta saling berikatan.
            Kesadaran magis kesadaran tersebut berimplikasi pada suatu kesadaran yang berasal dari pikiran akan peristiwa yang dialami oleh manusia adalah campur tangan dari luar. Atau bisa dikatakan bahwa kita sebaga manusia hanya bisa menjalani saja akan sebuah ketetapan yang sudah di tetapkan oleh tuhan. Kesadaran tersebut berdampingan dengan pradigma konservatif. Karena pradigma konservatif adalah suatu pradigma yang berpandangan bahwa ketidaksejajaran adalah suatu keharusan yang alami, yang mustahil untuk di hindari karena hal tersebut telah menjadi sebuah sejara atu sudah sebuah ketetapan dan menjadi bagian dari dalam diri kita. Sehingga tidak perlu bersusah payah untuk mengubahnya.
            Kesadaran naïf kesadaran tersebut adalah suatu peristiwa yang di alami adalah hasil dari proses yang pernah kita tempuh sebelumnya. Jadi sebelum mendapatkan apa yang kita targetkan maupun apa yang kita tetapkan sebelumnya kita harus membuat sebuah rencana-rencana untuk bisa mencapai hasil tersebut. serta percaya jika seseorang bisa melakukan hal tersebut tentunya kita juga pasti bisa dan mempunyai kesempatan yang sama untuk bisa. kesadaran ini setara dengan pradigma liberal. Karena pradigma liberal merupakan pola pikir yang menyatakan bahwa kita harus bisa mengambil keuntungan dari apa yang pernah kita tanam sebelumnya.
            Kesadaran kritis kesadaran ini adalah sebuah kesadaran yang paling utama dari pada kedua kesadaran lannya. Karena kesadaran ini suatu peristiwa yang terjad pada seseorang bisa jadi karena faktor dari luar sehingga perlu adanya humanisasi antar sesame. Dan menghapus proses dehumanisasi yang bisa menjadikan seseorang tersebut bisa mendapatkan apa yang menjadi haknya. Atau bisa juga di katakana kita perlu menoleh untuk bisa membantu seseorang yang masih belum bisa mendapatkan hak yang sepantasnya menjadi miliknya. Kesadaran tersebut sejajar dengan pradigma radikal hal tersebut bisa dikatakan sama karena pradigma radikal adalah suatu pola pikir yang memanusiakan manusia sehingga anti diskriminasi, dan indoktrinatif (pemberian ajaran secara mendalam (tanpa kritik) atau penggemblengan mengenai suatu paham atau doktrin tertentu dengan melihat suatu kebenaran dari arah tertentu saja). Sehingga pradigma ini membangun system sosial yang lebih adil.
            Dari ketiga kesadaran tersebut mulai dari kesadaran magis, kesadaran naïf hingga kesadaran kritis, tentu sebagai manusia yang berprikemanusiaan sepatutnya memiliki sebuah kesadaran kritis yang dibarengi oleh pradigma radikal. Karena kesadaran dan pradigma tersebut adalah bisa menjadikan antar sesama bisa saling mendapatkan hak yang seharusnya menjadi milik kita. Sehingga bisa memanusiakan manusia serta Negara pasti bisa menyetarakan hak-hak rakyatnya.
            Kenyataannya pendidikan saat ini kebanyakan tidak berorientasi untuk melahirkan suatu hal yang berkeadilan atau kesadaran kritis. Namun kebanyakan proses pendidikan yang ada di Indonesia ini adalah berorientasi pada pradigma konservatif dan liberal. Hal tersebut di buktikan dengan adanya banyaknya lulusan dari sebuah pendidikan yang berfikiran bahwa harus bisa mendapatkan apa yang pernah dikeluarkan sebelumnya. Dari pradigma tersebut melahirkan seseorang yang bermental matrealistis dan dehumanisasi. Sehingga saat ini sering terjadi kesenjangan sosial di Negara ini. Bahkan tokoh pemerintahan yang seharusnya menjadi wakil rakyat malah menyalahgunakan wewenang tersebut. banyak tokoh pemerintahan yang terlibat pada hal pengelapan uang, serta dalam sel tahanan pun masih kedapatan tindakan curang.  
            Untuk itu perlu sebuah perubahan untuk bisa merubah dari sebuah kesadaran magis menuju kesadaran kritis. Sehingga bisa menjadikan sebuah Negara sejahtera dan berkeadilan. Namun untuk mengubah dari kesadaran magis ke kesadaran kritis. memang sangatlah susah. Perlu adanya proses yang begitu lama.
Menurut penulis dalam mengubah hal tersebut pemerintah tidak bisa sepenuhnya diandalkan. Namun pemerintah nantinya bisa di andalakn dalam hal memutuskan suatu kebijakan, yang nantinya bisa mengarah kepada kesadaran kritis. Karena untuk merubah sebuah proses kesadaran dan pradigma yang telah tertanam pada diri seseorang butuh sebuah proses yang sedikit demi sedikit. Misalnya dari partisipasi sebuah komunitas-komunitas yang turut berpartisipasi dalam mengembangkan masyarakat sehingga bisa mengubah kesadaran masyarakat. Melewati proses pendekatan-pendekatan khusus.
Pradigma kritis adalah sebuah pemikiran yang paling benar dan paling memanusiakan manusia diantara pradigma dan kesadaran lainya. Untuk itu perlu di adakan sebuah cara atau strategi khusus sehingga masyarakat bisa menerapkan dan mengubah pola pemikiran mereka menjadi pemikiran pradigma radikal.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

SWADES : Film Aksi sosial